Tambahsari - WARGA DUSUN SERANG DESA TAMBAHSARI MENGGELAR PERINGATAN HUT KEMERDEKAAN RI KE 81 DENGAN MENGGELAR RENUNGAN DI TUGU PAHLAWAN SEMAKAM

WARGA DUSUN SERANG DESA TAMBAHSARI MENGGELAR PERINGATAN HUT KEMERDEKAAN RI KE 81 DENGAN MENGGELAR RENUNGAN DI TUGU PAHLAWAN SEMAKAM

TAMBAHSARI - Dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia Ke 81 warga Dusun Serang bersama Karang Taruna Kuda Putih Dusun Serang menggelar Renungan di Tugu Pahlawan Semakam, dalam kegiatan tersebut turut dihadiri Maryadi selaku Kepala Desa dan Susilo selaku Babinsa Desa Tambahsari.

Dalam sambutannya Kepala Desa menyampaikan untuk terus mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal positif dan mengajak untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan di tingkat desa, dalam kesempatan tersebut beliau juga menyampaikan sejarah dan tragedi yang terjadi di Dusun Serang sehingga dibangun Tugu Monumen Pahlawan Semakam tersebut, acara dilanjutkan dengan istighosah dan doa yang dipimpin oleh ulama Dusun Serang Kiyai Sumardi Al-Hafidz, serta ditutup dengan pembacaan puisi oleh Fajar Novianto berjudul 24 Pahlawan.

Pada tahun 1949, Desa Serang masih merupakan desa yang berdiri sendiri dan belum menjadi bagian dari Desa Tambahsari seperti sekarang. Pada masa itu, keadaan keamanan di berbagai wilayah masih belum stabil. Meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan masih berlangsung. Pasukan Belanda dan KNIL masih melakukan berbagai operasi untuk mencari dan menekan pihak-pihak yang dianggap membantu perjuangan Republik.

Dalam keadaan tersebut, kehidupan masyarakat Desa Serang tetap berjalan. Pada saat itu masyarakat sedang mempersiapkan pelaksanaan tradisi nyadran. Berbagai kebutuhan untuk kegiatan tersebut dipersiapkan oleh warga, termasuk makanan dalam jumlah yang cukup banyak.

Persiapan tersebut kemudian menimbulkan kecurigaan dari pihak Belanda. Makanan yang disiapkan masyarakat dicurigai sebagai bekal atau bantuan yang akan diberikan kepada para pejuang Republik. Kecurigaan tersebut semakin kuat setelah adanya laporan dari mata-mata pihak Belanda yang menyebutkan adanya hubungan antara masyarakat Desa Serang dengan para pejuang.

Informasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi pasukan Belanda atau KNIL untuk mendatangi Desa Serang. Kedatangan pasukan bersenjata tersebut membuat keadaan desa berubah. Warga yang sebelumnya menjalankan aktivitas sehari-hari kemudian menjadi sasaran pemeriksaan.

Pasukan mulai mencari dan mengumpulkan warga, terutama para laki-laki yang dianggap mengetahui keadaan desa dan hubungan masyarakat dengan para pejuang Republik. Mereka kemudian dikumpulkan di sebuah tempat . Tempat tersebut menjadi lokasi berkumpulnya warga sebelum mereka menjalani pemeriksaan.

Pihak Belanda berusaha mendapatkan informasi mengenai para pejuang Republik. Namun, keterangan yang mereka inginkan tidak diperoleh. Warga tidak menunjukkan keberadaan para pejuang dan tidak memberikan informasi yang dapat digunakan untuk menemukan mereka,pemeriksaan tersebut tindakan terhadap warga berubah menjadi kekerasan karena warga memang tidak mengetahui apa-apa tentang tentara maupun gerilyawan republik.

Para warga yang telah dikumpulkan kemudian ditembak di tempat. Mereka tidak dibawa untuk menjalani proses hukum atau pemeriksaan lebih lanjut. Satu per satu warga menjadi korban penembakan dalam peristiwa tersebut.

Tidak seluruh korban mengalami nasib yang sama. Dalam peristiwa tersebut terdapat warga yang dikubur hidup-hidup. Mereka dimasukkan ke dalam lubang dalam keadaan masih hidup dan kemudian dikuburkan. Tindakan tersebut memperlihatkan kekejaman yang terjadi terhadap masyarakat Desa Serang pada masa itu.

Peristiwa tersebut menyebabkan 24 warga Desa Serang gugur pada 10 Februari 1949 dan dikuburkan dalam satu liang lahat yang sebelumnya memang telah disiapkan.


Dipost : 17 Agustus 2026 | Dilihat : 16

Share :